PROF. Dr. Selo Sumardjan, yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Pribadi HB IX dan dikenal sebagai “Bapak Sosiologi Indonesia”, berhasil mengungkap banyak bukti tentang peran HB IX dalam memperjuangkan kemerdekaan RI. Bukti‑bukti tak terbantahkan tersebut dipaparkan secara sistematis dalam bukunya Perubahan Sosial di Yogyakarta (Komunitas Bambu, Jakarta, 2009).
Buku ini merupakan hasil disertasi utama seorang ilmuwan sosiologi yang disusun pada tahun 1959. Disertasi berjudul Social Changes in Yogyakarta kemudian diterbitkan oleh Komunitas Bambu dengan judul Perubahan Sosial di Yogyakarta dan diakui sebagai Buku Babon Sosiologi di Indonesia. Pengumpulan data untuk disertasi tersebut dilakukan dengan cara “manjing ajur ajer”, yaitu peneliti tidak memisahkan diri dari objek penelitiannya, melainkan berada di dalamnya. Karena itu, hasil kajian Prof. Selo menyajikan potret kejadian yang sangat otentik.
Buku ini tebal, mencapai 504 halaman, namun penyampaiannya mengalir begitu lancar bahkan terasa seperti novel sehingga pembaca tidak akan merasa lelah membacanya sekaligus. Seringkali, satu kali duduk membaca saja sudah cukup untuk tenggelam dalam cerita selama semalaman.
Salah satu contoh narasi yang menarik adalah kisah inspektur pamong praja Belanda di Gunungkidul. Pada saat itu, pejabat Belanda harus memimpin pertemuan dengan pejabat‑pejabat Jawa. Karena “kongas”, sang pejabat memutuskan meninggalkan tugasnya untuk makan siang bersama istrinya, menyerahkan pertemuan kepada bupati setempat. Saat makan siang, inspektur yang tidak mengetahui sejarah perjuangan di tanah Jawa mendengarkan siaran radio yang melaporkan serangan tentara Jerman ke Belanda. Menyadari bahaya yang mengancam negaranya, ia segera kembali ke ruang pertemuan dan mengumumkan, “Kita telah berperang melawan Jerman; kita harus bersatu karena Sultan Agung pernah berkata: ‘Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.’”
Kutipan tersebut, yang mengaitkan nama Sultan Agung pahlawan yang pernah menaklukkan Belanda hingga dua kali justru menimbulkan kemarahan warga Yogyakarta. Penggunaan kata‑kata yang tidak tepat dianggap merendahkan kebesaran Sultan Agung, sehingga upaya memperoleh dukungan malah menimbulkan antipati dan kebencian.
Ketika tentara Jepang memasuki Jawa, orang Belanda yang selama tiga setengah abad menindas warga pribumi akhirnya harus berjuang sendiri. Kehebatan ras tidak mampu menyelamatkan mereka dari kehancuran; dalam sekejap mereka bertekuk lutut tanpa syarat di hadapan pasukan Jepang. Penderitaan orang Belanda dipandang dengan dingin oleh warga pribumi.
Harapan dukungan dari Sri Sultan HB IX, yang pernah menempuh 9 tahun studi di Leiden University, tidak pernah terwujud karena sang Sultan telah meninggal saat naik takhta. Meskipun ilmunya bersumber dari Barat, jiwanya tetap orang Jawa Yogyakarta. Jika Sri Sultan mau mendukung Belanda, seluruh kawula Ngayogyakarta Hadiningrat—yang meliputi DIY dan wilayah Kedu (Magelang, Banyumas, Dulangmas)—pasti akan patuh pada perintah Ngarso Dalem. Inilah konsekuensi bila mengabaikan rakyat kecil dan menganggap enteng Sri Sultan.
Kebodohan atau sengaja menutup mata terhadap sejarah, serta sikap “sok paling super” yang menolak mengenal orang di sekitarnya, pada akhirnya berujung pada kehinaan.
Semoga pejabat‑pejabat di Republik ini tidak meniru sifat “Londo” yang menindas. Rakyat kecil, yang sesungguhnya merupakan kawula dalem Kasultanan Ngayogyakarta, tidak rela melihat pejabat tinggi terjungkal karena kelakuan mereka sendiri.
Rakyat Ngayogyakarta yang masih menjunjung tinggi nilai‑nilai Jawa tidak akan bersikap beringas atau menuntut secara berlebihan. Pepatah “wong ngalah luhur wekasane” mengajarkan bahwa orang yang mau mengalah pada akhirnya akan memperoleh kemuliaan.
Namun, bila terus-menerus dizalimi dan diejek, doa tulus rakyat kecil tanpa pamrih bisa menjadi lebih kuat daripada bom atom. Mereka memang orang kecil; menghina mereka sudah menjadi hal biasa. Tetapi bila menghina Keraton, Raja, atau keluarga raja yang senantiasa dimuliakan, hati‑hati dengan doa tulus mereka.
“Pangeran Ora Sare”
“Terima aku, ra trimo sing momong aku” (artinya: saya dapat menerima, tetapi yang menciptakan dan menjaga diri saya tidak akan menerima kezaliman orang lain).
Kalimat‑kalimat sakti semacam ini mampu membangkitkan sugesti hingga menjatuhkan lawan tanpa menyentuh sehelai rambut pun.
(Bambang Murdoko)





0 Komentar