DI Desa Munggu, Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen, banyak ditemukan sosok yang disebut “dewan”, namun bukan dewan DPR. Mereka adalah para penderes kelapa—pekerja yang menumpang di atas pohon kelapa, jauh dari sorotan politik. Tanpa harus berpidato atau bersuara, mereka lebih suka bekerja sendiri di ketinggian, di atas cakrawala.
Tidak ada yang tahu pasti mengapa mereka disebut “dewan”. Menurut Ringin, salah satu penderes, sebutan itu mungkin muncul karena mereka bekerja di atas, mirip dengan kepercayaan Jawa yang menempatkan dewa di atas. Dari situlah muncul istilah “laku Ndewo” (Dewan). “Tapi saya tidak tahu secara pasti,” ujarnya.
Selain meneguk tradisi, para penderes kelapa juga melakukan terobosan teknologi. Mereka mengolah kelapa menjadi gula kelapa, pemanis alami yang kini dikenal luas. Melalui media daring Nderes Raharja, diharapkan masyarakat dapat memanfaatkan sumber daya lokal dengan lebih bijak dan cerdas.
Memang, proses memanen kelapa tampak seperti “memperkosa” buahnya, namun sebenarnya itu adalah upaya mengelola sumber daya alam secara ilmiah, bukan kekerasan. Kebumen terkenal menghasilkan gula kelapa berkualitas tinggi; gula kelapa dari Pagak misalnya berwarna kuning cerah dan rasanya manis. Jika dikonsumsi bersama daging kelapa muda (degan), gula kelapa dapat menambah stamina, bahkan atlet sepak bola di daerah ini pada tahun 1940-an rutin memakannya untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
Konon, nira kelapa yang direbus menjadi gula juga memiliki khasiat obat batuk. Karena manfaatnya, para penderes kadang disebut “Dewan”. Entah mengapa, namun jelas bahwa kita memiliki kekayaan alam yang melimpah pohon kelapa yang serbaguna, bahkan tunasnya dipakai sebagai lambang Pramuka.
Beberapa penderes yang menginginkan hasil melimpah berziarah ke tempat bertapa Ki Cakrajaya I, yang kini dikenal sebagai Sunan Geseng, terletak di Desa Bedug, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo. Tempat itu hanyalah bekas tempat bertapa, bukan makam (makam Ki Cakrajaya I berada di Jalasutra, Piyungan, Bantul). Penderes yang baru memulai usahanya atau yang baru pertama kali menyadap nira berharap dengan berziarah di sana, hasil panen mereka akan seberlimpah keberhasilan Ki Cakrajaya I.
Ki Cakrajaya I, cucu Ki Ageng Bagelen, mendapat wangsit dari leluhurnya dan pindah ke Bedug. Di sana ia menghidupi keluarganya dengan menyadap nira dari empat batang pohon kelapa miliknya, menghasilkan panen yang mengagumkan. Karena daerahnya berbukit, pertanian tidak memungkinkan, sehingga ia memilih menjadi penderes.
(Bambang Murdoko)-l





0 Komentar