— Ruang Iklan —

Pesan Tugu Golong Gilig: “Sengguh Ora Mingkuh”

Januari 4, 2026

Tugu Golong Gilig Akan Kembali Berdiri

Tugu Golong Gilig akan lahir kembali setelah sempat “terlupakan” dalam sejarah. Proses pembuatannya sedang berlangsung, dan targetnya adalah agar pada tahun 2012 tugu ini sudah dapat berdiri megah, menyampaikan pesan sang pendiri Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono I.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Djoko Dwijanto, yang mengawasi proyek ini, tinggi tugu yang akan dibangun tidak akan sama dengan aslinya. Yang terpenting, kembalinya Tugu Golong Gilig dapat memperbaiki pemahaman yang keliru tentang makna Tugu Yogyakarta.

Tugu yang ada saat ini bukanlah tugu asli. Tugu tersebut dibangun oleh pemerintah Belanda sebagai pengganti Tugu Golong Gilig buatan Sri Sultan HB I yang roboh akibat gempa bumi. Tugu asli dirancang oleh Sri Sultan HB I dengan bentuk “slindris pejal” (bahasa Jawa: gilig) yang menopang bola “pejal” (bahasa Jawa: golong). Karena itulah, tugu yang dibangun satu tahun setelah berdirinya Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dikenal sebagai Tugu Golong Gilig.

Secara hakiki, Tugu Golong Gilig menyimpan pesan Sri Sultan HB I untuk seluruh sentanadalem (keturunan raja), abdidalem (pelayan atau pegawai raja), dan kawuladalem (rakyat biasa). Pesannya adalah agar selalu memelihara semangat kebersamaan yang kuat, bulat, dan bertekad menegakkan martabat.

Menurut sesepuh Komite Tegar Budaya (KTB) Yogyakarta, Amir Sutoko, istilah golong‑gilig mengandung makna sengguh nora mingkuh. Sengguh berarti tekun, tak kenal lelah, terus berusaha hingga napas terakhir. Nora mingkuh berarti tidak mudah goyah, tegar, kokoh, tahan banting, serta maju terus menembus segala rintangan untuk mencapai tujuan.

Inilah karakter yang ditanamkan Sri Sultan HB I kepada keturunannya, para prajurit, dan seluruh rakyatnya. Keraton sebagai pusat kebudayaan selalu menanamkan ajaran‑ajaran hidup yang mulia dalam arsitektur, kesenian, dan upacara adat, sebagai upaya melawan pengawasan ketat pemerintah Belanda yang berusaha menjadikan bangsa ini bodoh, dungu, dan pasif agar mudah dikuasai.

Dengan kembalinya Tugu Golong Gilig, semangat warga Yogya dan seluruh bangsa diharapkan kembali menyala, menjadikan setiap orang berkarakter, bermartabat, dan berbudaya. (Bambang Murdoko)

Bagikan:
— Ruang Iklan —

Artikel Populer

— Ruang Iklan —

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

— Ruang Iklan —

Artikel Terkait

Penderes Kelapa Disebut “Dewan”

Penderes Kelapa Disebut “Dewan”

DI Desa Munggu, Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen, banyak ditemukan sosok yang disebut “dewan”, namun bukan dewan DPR. Mereka adalah para penderes kelapa—pekerja yang menumpang di atas pohon kelapa, jauh dari sorotan politik. Tanpa harus berpidato atau bersuara,...

Buta Sejarah, Ilat Londo Kecetit dan Terjungkal

Buta Sejarah, Ilat Londo Kecetit dan Terjungkal

PROF. Dr. Selo Sumardjan, yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Pribadi HB IX dan dikenal sebagai “Bapak Sosiologi Indonesia”, berhasil mengungkap banyak bukti tentang peran HB IX dalam memperjuangkan kemerdekaan RI. Bukti‑bukti tak terbantahkan tersebut dipaparkan...

fenomena sosial digital: hidup online vs offline

fenomena sosial digital: hidup online vs offline

Fenomena Sosial Digital: Menguak Dinamika Kehidupan Online vs Offline di Era Media Sosial Fenomena sosial digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian banyak orang. Di satu sisi, kita dapat melihat individu yang tampak pendiam, bahkan hampir tak...

— Ruang Iklan —