Tugu Golong Gilig Akan Kembali Berdiri
Tugu Golong Gilig akan lahir kembali setelah sempat “terlupakan” dalam sejarah. Proses pembuatannya sedang berlangsung, dan targetnya adalah agar pada tahun 2012 tugu ini sudah dapat berdiri megah, menyampaikan pesan sang pendiri Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono I.
Menurut Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Djoko Dwijanto, yang mengawasi proyek ini, tinggi tugu yang akan dibangun tidak akan sama dengan aslinya. Yang terpenting, kembalinya Tugu Golong Gilig dapat memperbaiki pemahaman yang keliru tentang makna Tugu Yogyakarta.
Tugu yang ada saat ini bukanlah tugu asli. Tugu tersebut dibangun oleh pemerintah Belanda sebagai pengganti Tugu Golong Gilig buatan Sri Sultan HB I yang roboh akibat gempa bumi. Tugu asli dirancang oleh Sri Sultan HB I dengan bentuk “slindris pejal” (bahasa Jawa: gilig) yang menopang bola “pejal” (bahasa Jawa: golong). Karena itulah, tugu yang dibangun satu tahun setelah berdirinya Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dikenal sebagai Tugu Golong Gilig.
Secara hakiki, Tugu Golong Gilig menyimpan pesan Sri Sultan HB I untuk seluruh sentanadalem (keturunan raja), abdidalem (pelayan atau pegawai raja), dan kawuladalem (rakyat biasa). Pesannya adalah agar selalu memelihara semangat kebersamaan yang kuat, bulat, dan bertekad menegakkan martabat.
Menurut sesepuh Komite Tegar Budaya (KTB) Yogyakarta, Amir Sutoko, istilah golong‑gilig mengandung makna sengguh nora mingkuh. Sengguh berarti tekun, tak kenal lelah, terus berusaha hingga napas terakhir. Nora mingkuh berarti tidak mudah goyah, tegar, kokoh, tahan banting, serta maju terus menembus segala rintangan untuk mencapai tujuan.
Inilah karakter yang ditanamkan Sri Sultan HB I kepada keturunannya, para prajurit, dan seluruh rakyatnya. Keraton sebagai pusat kebudayaan selalu menanamkan ajaran‑ajaran hidup yang mulia dalam arsitektur, kesenian, dan upacara adat, sebagai upaya melawan pengawasan ketat pemerintah Belanda yang berusaha menjadikan bangsa ini bodoh, dungu, dan pasif agar mudah dikuasai.
Dengan kembalinya Tugu Golong Gilig, semangat warga Yogya dan seluruh bangsa diharapkan kembali menyala, menjadikan setiap orang berkarakter, bermartabat, dan berbudaya. (Bambang Murdoko)





0 Komentar