— Ruang Iklan —

Sapu Lidi

Januari 10, 2026

Sapu lidi adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari‑hari. Setiap pagi dan sore, banyak orang masih menggunakannya untuk membersihkan halaman rumah, sehingga hampir setiap keluarga memilikinya.

Namun kini, terutama di perkotaan, menemukan sapu lidi menjadi semakin sulit. Banyak rumah kini ber‑plester, sehingga hanya membutuhkan sapu ijuk atau sabut. Kondisi ini mencerminkan perubahan sikap masyarakat yang tampak semakin sulit diatur. Kelompok‑kelompok dan individu‑individu mulai menerapkan aturan masing‑masing tanpa menghormati norma bersama. Sopan santun, rasa hormat, dan tata krama tampak memudar; menjelekkan orang lain di depan umum tidak lagi dianggap tabu. Kata‑kata kasar yang dulu hanya muncul saat kemarahan meluap kini menjadi pilihan dalam wacana politik maupun percakapan sehari‑hari.

Kemanusiaan (tepo‑selira) berubah menjadi rangkaian kata tanpa rasa. Rintihan atau tangisan orang yang kehilangan harta atau pekerjaan tak lagi menyentuh hati. Penderitaan alam pun tidak cukup, sehingga sebagian orang berusaha menciptakan bencana buatan. Tidak ada lagi kesamaan sikap, perilaku, bahasa, atau pandangan. Persaudaraan mengering karena jiwa pengorbanan, tata krama, dan tepo‑selira semakin menyusut.

Sapu lidi yang dulu besar dan teratur kini berantakan; lidi‑lidi terlepas, berkumpul menjadi kelompok‑kelompok kecil yang disebut “kelud‑kelud”. Padahal, nenek moyang kita mengajarkan, “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Ketika sapu terpecah menjadi puluhan kelud‑kelud, daya guna dan manfaatnya menurun. Seringkali, kelud‑kelud saling bentur‑bentur tergantung pada cara memegangnya, sehingga lidi‑lidi dapat putus dan terpecah‑berai.

Lidi‑lidi yang sudah tak berfungsi sebagai sapu menjadi mudah patah dan berbahaya; serpihan‑serpihnya dapat melukai. Namun, bila masih ada kesadaran dan kemauan berkorban demi kepentingan bersama, lidi‑lidi yang berserakan masih dapat disatukan kembali menjadi sapu. Mereka harus dipersatukan, dihargai, dan dipercaya oleh yang menyusunnya.

Lidi pendek memang tidak dapat menjangkau ujung sapu, sehingga tidak berperan langsung menghilangkan kotoran, tetapi tetap penting untuk menjaga kekompakan ikatan sapu. Begitu pula lidi paling panjang; tanpa didampingi oleh lidi‑lidi pendek, ia tak mampu menyapu bersih. Kekuatan sapu terletak pada keseragaman panjang tiap lidi, sehingga semua harus rela dipotong agar seimbang.

Dengan kesadaran kolektif, sapu lidi kembali dapat berfungsi optimal, melambangkan persatuan yang kuat dan kebersamaan yang berkelanjutan. (Bambang Murdoko)

Bagikan:
— Ruang Iklan —

Artikel Populer

— Ruang Iklan —

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

— Ruang Iklan —

Artikel Terkait

Pesan Tugu Golong Gilig: “Sengguh Ora Mingkuh”

Pesan Tugu Golong Gilig: “Sengguh Ora Mingkuh”

Tugu Golong Gilig Akan Kembali BerdiriTugu Golong Gilig akan lahir kembali setelah sempat “terlupakan” dalam sejarah. Proses pembuatannya sedang berlangsung, dan targetnya adalah agar pada tahun 2012 tugu ini sudah dapat berdiri megah, menyampaikan pesan sang pendiri...

Buta Sejarah, Ilat Londo Kecetit dan Terjungkal

Buta Sejarah, Ilat Londo Kecetit dan Terjungkal

PROF. Dr. Selo Sumardjan, yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Pribadi HB IX dan dikenal sebagai “Bapak Sosiologi Indonesia”, berhasil mengungkap banyak bukti tentang peran HB IX dalam memperjuangkan kemerdekaan RI. Bukti‑bukti tak terbantahkan tersebut dipaparkan...

fenomena sosial digital: hidup online vs offline

fenomena sosial digital: hidup online vs offline

Fenomena Sosial Digital: Menguak Dinamika Kehidupan Online vs Offline di Era Media Sosial Fenomena sosial digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian banyak orang. Di satu sisi, kita dapat melihat individu yang tampak pendiam, bahkan hampir tak...

— Ruang Iklan —